.author-comments { background: #333333; border: 2px solid #666666; padding: 5px; }

Senin, 01 Agustus 2011

JUST LESSON FOR ME (KKP:Singapura,Malaysia)

Naaah….akhirnya sampai juga ke dalam tahap mengenai pelajaran apa yang bisa di ambil di kedua negara yang dikunjungi tersebut, khususnya mengenai tata  ruang perkotaannya. Menurutku keduanya lumayan jauh apabila dibandingkan dengan Indonesia,jauh lebih bagus maksudnya. Di kedua negara tersebut, infrastruktur jalan di bentuk dengan Indahnya. Disana bentuk contur tanah sangat diperhatikan. Sebelum menciptakan sebuah jalan ataupun zonasi-zonasi lainnya, aspek lingkungan sangat diperhatikan. Jadi dilihat dari usia pohon yang cukup tua mungkin, dalam pikiran aku mengatakan bahwa disana waktu pertama kali menciptakan sebuah jalan dan zonasi-zonasi tersebut, tidak langsung membabat habis lingkungan tersebut. Mereka benar-benar merencanakan kawasan yang mau diciptakan. Area mana yang harus dibabat dan spot mana yang tetap harus dipertahankan kehijauannya, yang nantinya bakal berfungsi sebagai RTH kota. Beda kasus di Indonesia, di kota-kota besar Jakarta, Jogja, Semarang dsb, jarang sekali aku lihat  jalan-jalan arteri maupun kolektor ada pohon-pohon besar yang menjadi peneduh. Hal ini mengindikasikan bahwa dahulu, pada saat pembuatan jalan-jalan tersebut, manusia di dalamnya membabat habis area hijau untuk dibangun jalan maupun untuk zonasi-zonasi lainnya, seperti perumahan, industri, komersil dsb. Baru, sekarang setelah isu Global Warming semakin meluas dan merebak baunya bak parfum yang di seprotkan ke segala penjuru ruangan, dan dalam kenyataannya, lingkungan di perkotaan, kita rasakan semakin panas dan sumpek  saja, barulah manusia yang ada di lingkungan tersebut sadar akan pentingnya ruang hijau kota. Sekarang barulah timbul kesadaran di benak manusia, bahwa lingkungan sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia di bumi ini. Di berbagai spot jalan-jalan besar, di sepanjang jalan mulailah ditanami tanaman-tanaman yang nantinya diharapkan dapat mengurangi polusi kota yang menjadi sumber Global Warming tersebut. Memang mending sih, daripada tidak sadar sama sekali, tapi apalah mau dikata, sepertinya sia-sia mereka melakukan tindakan tersebut apabila jumlah kendaraan semakin banyak saja. Dari pengamatan sambil naik bis, ke kampus, pulang kampung, atau kemana saja aku pergi, aku lihat tanaman-tanaman yang mulai ditanam di sepanjang jalan-jalan besar tersebut, bukannya makin subur, tapi malah tidak bisa tumbuh, warna daun kehitam-hitaman saking beratnya polusi kendaraan yang menimpanya bahkan dalam kondisi ekstrim sering aku jumpai tanaman-tanaman tersebut mati  mengenaskan dengan kondisi daun berwarna hitam, batang  cokelat, dan tak berdaya. Dan setelah di fisum ternyata penyebab kematian tersebut adalah polusi kendaraan yang begitu tinggi sehingga menyebabkan tanaman strezz, lalu bunuh diri J

sepanjang perjalanan banyak aq jumpai pohon-pohon besar seperti ini

Singapura
Putra Jaya (Malaysia)
Kalau malam lampu di Jembatannya itu bisa bergonta-ganti warna lhooo...
Orchad Road yang begitu megah di malam harinya

Jadi singkat ceritanya gini, sepanjang perjalanan kami, masih banyak aku lihat ruang-ruang hijau di kanan dan kiri jalan. Pohon-pohon besar banyak tumbuh di sepanjang jalan yang berfungsi sebagai peneduh dan estetika. Seneeeng, sejuuuuk, adheeem, ayeeeem, tentreeeem rasanya kalau lihat kondisi jalan-jalan disana. Lihat kanan “hijau”…lihat kiri “hijau”, banyak manusia jalan kaki, tidak ada motor berseliweran, menyeberang tepat di tempat penyeberangan, banyak dijumpai jembatan penyeberangan yang didesain cukup bagus, berfungsi sebagai tempat menyeberang para pejalan kaki dan untuk menghindari kemacetan dan kecelakaan. Selain itu untuk menghindari kemacetan, juga banyak dibangun jalan-jalan layang disana. Hal lain yang aku rasa cukup humanis,  mobil dan kendaraan lainnya harus mengalah kepada manusia, jadi manusia benar-benar dimanusiakan disini, beda dengan di Indonesia, para pejalan kaki harus mengalah dengan mobil dan kendaraan lainnya, transport umum bagus-bagus, lucu-lucu, unyuk-unyuk  dan banyak masyarakat yang memanfaatkan alat transportasi publik ini. Zonasi lingkungan jelas, perumahan terarah, terstruktur, terorganisasi. Dibangun dengan sangat bagus, indah dan sangat rapi. Sering kami lihat di Malaysia, satu zonasi perumahan yang bentuk dan warna rumahnya sama semua, langsung heran deh semua, kalau misal lupa rumahnya yang mana, gimana yaak? Sedangkan di  Singapura, semua perumahan vertikal, banyak  gedung-gedung tinggi menjulang ke atas. Lucunya, waktu aku menceritakan hal tersebut ke tetangga sekitar kos, tanggapan semuanya hampir sama: “lhaaah….kalau gedungnya tinggi semua, capek donk untuk orang yang kebagian dapet rumah paling atas?????? Pengen ngakak sebenarnya…(tapi gak sopan) Oooh iya yaa..beberapa rusun di Indonesia kan masih menggunakan tangga, jadi maklum kalau tetanggaku tanya seperti itu. Jadi sambil tersenyum aku jawab :”kan ada Lift buuugh. . . .jadi tinggal diem, pencet lantai mana yang mo dituju, g ada 5 menit, sampai deeehJ
Gotong Royong,Sebuah Budaya Yang Patut Kita Banggakan

Tapi….ada juga keunggulan Indonesia dibandingkan dengan kedua negara tersebut, Yaitu dari segi “Sosial dan Budaya”. Tingkat sosial Indonesia masih lebih tinggi, disini kita masih kenal dengan tetangga-tetangga sebelah, bahkan kalau aku pulang ke kampung halamanku, Boyolaliku tercinta J ayah dan ibuku bahkan masih kenal dengan tetangga-tetangga kampung sebelah yang dekat, agak jauh, bahkan jauhpun kadang satu dua masih ada yang kenal. Masih menyapa saat kebetulan bertemu di angkutan umum dan tidak meninggalkan tradisi yang bikin bokek kjalau ketemu tetangga di dalam angkutan umum, saling berebut untuk bayarin satu dengan yang lain. Masih saling bantu membantu satu dengan yang lain, kerja bakti, karang taruna, kawinan, kematian dan lain sebagainya. Bukankah ini memperlihatkan bahwa kondisi Sosial di Indonesia patut untuk diacungi jempol dibanding kedua negara tersebut. Kalau di Malaysia mungkin bedanya tidak terlalu jauh dalam hal kebudayaan, karena aku lihat budaya-budaya melayu masih terlihat disana. Tapi di Singapura….yang aku jumpai hanyalah orang-orang yang individualis, jalannya cepat sekali  karena mungkin effisiensi waktu, tidak tegur sapa satu dengan yang lain. pokoknya “so what…aku mau jalan!!! 


Kurang lebih seperti itulah sedikit cerita mengenai pelajaran yang bisa aku ambil dari perjalananku ke Singapura dan Malaysia. Aku bukannya menjudge bahwa Indonesia itu jelek ataupun tidak bangga menjadi puteri Indonesia, tapi aku hanya berpendapat dari sudut pandang aku, dari hasil pengamatan mata kepalaku, dan dengan bahasaku sendiri, yang nantinya mungkin akan berguna khususnya bagi diriku dan temen-temen yang baca artikel ini mungkin. Lebih khususnya lagi, bagi planner yang nantinya bakalan menata Indonesia menjadi negara yang lebih humanis, lebih terencana dengan memanfaatkan teknologi yang ada, bukan untuk merusak atau memusnahkan lingkungan, tetapi untuk mendaya gunakan lingkungan dan ruang agar lebih bermanfaat bagi kehidupan manusia di dalamnya Disamping itu, sekaligus menjaganya, melindunginya dan lebih bersahabat dengannya, dan tentunya untuk rakyat yang lebih sejahtera lagi, sesuai dengan tujuan utama negara ini J

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih yaaa...baex buat yang uwda baca artikel terlebih buat yang kasih coment-coment di artikelku..ntar aq jajain perment dewh..sebagai tanda terimakasih...hhiii n maaph kalau artikelku ada salah-salah kata atau yang tidak berkenan di hati( kayak bikin makalah ajaa...hhhee)